RSS Feed

Kecemasan Efek Radioaktif di jepang Berlebihan

Posted on

meledaknya nuklir Fukushima di Jepang telah menebar kecemasan yang semakin tidak rasional. Tidak hanya di Jepang, melainkan sampai di Indonesia. Tidak hanya di internet dan SMS berantai, melainkan sudah menjadi kasak-kusuk dari mulut ke mulut. Saya sendiri menerima ”peringatan” berantai agar berhatihati jika pergi ke luar rumah saat hujan. Sebab, boleh jadi air hujan itu sangat berbahaya, bersifat radioaktif ataupun berupa hujan asam yang membahayakan kesehatan. Misalnya, mengakibatkan kerontokan rambut atau bahkan kanker. Peringatan yang ”mengerikan” itu masih ditambahi saran agar SMS/BBM tersebut diteruskan kepada siapa saja teman kita. Tentu yang demikian itu bisa menimbulkan kecemasan masal yang tidak rasional. Ada dua hal yang dijadikan dasar kecemasan tersebut.

Yang pertama adalah ledakan hidrogen yang meruntuhkan bangunan reaktor Fukushima. Disebutkan, banyaknya hidrogen di udara Jepang tersebut akan memicu hujan asam Bukan hanya di sekitar lokasi reaktor, melainkan sampai ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pemahaman atas kabar itu harus diluruskan. Dari mana munculnya hidrogen yang bisa meledakkan bangunan reaktor nuklir itu? Akumulasi gas ringan yang sangat reaktif tersebut muncul sebagai hasil reaksi selongsong bahan bakar nuklir yang terbuat dari zirkonium (Zr) dengan air pendingin reaktor dalam suhu yang sangat panas. Secara kimia ditulis: Zr + 2 H2O ‡ ZrO + 2H2.

Saat pendingin reaktor tidak berfungsi, memang di sekitar selongsong bahan bakar itu akan terjadi pemanasan berlebihan yang mengakibatkan ia bereaksi dengan air yang merendamnya. Gas hidrogen tersebut lantas terlepas dan terkumpul di cungkup reaktor dalam jumlah yang sangat banyak. Gas hidrogen adalah jenis gas yang sangat reaktif dan tidak bisa berdiri sendiri di udara. Ia lantas bereaksi dengan oksigen bebas. Efeknya berupa ledakan dan semburan panas berkekuatan besar yang mampu meruntuhkan gedung reaktor. Tetapi, bukan inti reaktor yang berisi bahan bakar nuklir. Ledakan semacam itu mirip dengan yang terjadi pada roket pembawa pesawat ruang angkasa. Semburan api besar dan ledakannya bisa menghasilkan gaya angkat roket menuju bagian atas atmosfer bumi. Kekuatan dahsyat pada roket itu juga berasal dari reaksi hidrogen dengan oksigen. Yang perlu diketahui, reaksi hidrogen dengan oksigen pada roket maupun cungkup reaktor tersebut tidak menghasilkan hujan asam, meskipun di sekitar lokasi reaksi. Apalagi sampai menyebar ke belahan dunia lain.

Itu terlalu dibesar-besarkan. Bahkan, sebenarnya, hujan asam bisa terjadi karena pembakaran bahan bakar fosil, misalnya batu bara, yang berlebihan. Polusinya akan membubung ke awan dan menimbulkan hujan asam. Itu tidak terjadi pada bahan bakar nuklir. Efek reaksi nuklir tidak akan menghasilkan hujan asam, melainkan limbah radioaktif. Namun demikian, terhadap efek radioaktif itu pun, banyak persepsi yang masih keliru serta berlebihan. Apalagi, banyak media massa yang tidak memberikan informasi secara berimbang tentang bahaya radioaktif tersebut. Padahal, radioaktivitas itu hanya berbahaya jika dosisnya melebihi ambang yang diperbolehkan. Dalam skala normal, radioaktivitas sudah lumrah terjadi di sekitar kita. Saat menonton televisi, misalnya, kita sudah memapar mata dan tubuh kita dengan radiasi berbahaya yang keluar dari tabung televisi. Juga saat bekerja dengan komputer, layar monitornya mengeluarkan radiasi. Begitu pula kala mengoperasikan mesin fotokopi, pekerja pun terpapar radiasi.

Apalagi saat difoto rontgen dengan sinar X. Bahkan, alam sekitar pun memapar kita dengan radiasi sinar kosmis. Tingkat bahaya radiasi seiring dengan dosis yang diterima tubuh. Selama hal itu masih berada di bawah ambang batas, semuanya akan baik-baik saja. Maka, ketika para pekerja reaktor Fukushima terkena radiasi nuklir, kita tidak bisa serta-merta mengatakan itu sebagai bencana yang membahayakan. Masih harus dilihat seberapa besar dosis yang mereka terima. Tetapi, memang harus dilakukan langkah antisipatif agar tidak kecolongan. Data terakhir yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang menyebutkan, dosis radiasi di dalam gedung reaktor yang sesaat setelah ledakan sebesar 100 mili-Sv kini sudah turun menjadi sekitar 150 mikro- Sv. Itu sudah lebih rendah daripada dosis sinar rontgen yang biasa digunakan untuk memotret tubuh kita, yang berkisar 600 mikro-Sv. Maka, meskipun terpapar radiasi nuklir, jika dosisnya hanya sebesar itu, manusia tidak berada dalam bahaya asal setelah itu dikarantina.

Untuk itu, dalam dunia radiologi dikenal ukuran radiasi yang masih diperbolehkan untuk diterima manusia dalam skala rem (radiation equivalent man). Dalam bentuk radiasi apa saja, termasuk ketika melakukan pemeriksaan rontgen, orang harus mempertimbangkan aturan skala radiasi yang boleh diterima tubuh itu. Besarnya bergantung pada jenis organ tubuh dan usia orang yang terpapar radiasi. Anak muda lebih sensitif terhadap radiasi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Skala itu pun berbeda bagi orang awam dan pekerja radiasi. Contohnya, bagi orang awam, radiasi yang mengenai tubuh atau sumsum tulang merah dan organ reproduksi tidak boleh lebih dari 0,5 rem per tahun. Sedangkan pekerja radiasi boleh terkena paparan sampai 5 rem per tahun. Kulit, tulang, dan tiroid boleh terkena radiasi 3 rem per tahun untuk orang awam serta 30 rem per tahun pada pekerja radiasi.

Sementara itu, bagian tangan, lengan, kaki, dan betis boleh terpapar radiasi sampai 7,5 rem per tahun untuk orang awam dan 75 rem per tahun pada pekerja radiasi. Selebihnya, organ-organ lain boleh terkena paparan 1,5 rem per tahun untuk orang awam dan 15 rem per tahun untuk pekerja radiasi. Artinya, paparan radiasi di bawah ambang ukuran tersebut tidak akan membahayakan kesehatan kita. Efek kanker baru terjadi pada dosis radiasi yang sangat tinggi. Misalnya, dosis 300 rem terbukti mengakibatkan kanker pada tikus uji coba. Sedangkan kanker kulit baru terjadi pada dosis 2.000–5.000 rem. Maka, saya kira, lebih bijaksana jika kita memahami efek radioaktivitas itu secara lebih rasional. Pemberitaan yang berimbang dari media massa akan memberikan efek edukasi kepada masyarakat kita secara proporsional. Sebab, siapa tahu, Indonesia bakal memilih PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) di masa depan sebagai langkah diversifikasi energi. Yakni, ketika bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam, sudah tidak bisa diandalkan lagi secara penuh karena tidak lama lagi habis. Juga ketika kondisi pembangkit listrik tenaga air sangat memprihatinkan karena kerusakan lingkungan yang semakin parah. Sangat mungkin beberapa tahun ke depan Indonesia menyongsong datangnya krisis energi yang mengkhawatirkan. (*) * Penulis buku, alumnus teknik nuklir Universitas Gadjah Mada, mantan wartawan Jawa Pos

1

About episcia

saia seorang anak perempuan (bungsu dari 2 bersaudara).. memiliki seorang kakak laki-laki bernama koko.. anak ke 2 dari pasangan Bambang S. Lautt dan Hana Pertiwi.. saia lahir 4 juli 1994, berbintang cancer.. menyukai warna ungu dan pink pucat.. memiliki sifat kekanak-kanakan, simple, cereweet.. saia mempunyai berapa hobby seperti menulis, menari, menyanyi, dll.. warna kulit kung langsat.. tinggi badan 168 cm.. dan berat badan 59.. saia menggeluti beberapa ekskul seperti pramuka, pasibaraka, OSIS, SKR.. selanjutnya jika ada yang ingin ditanyakan.. hubungi saya..

3 responses »

  1. ingin mendapatkan tautan banyak kunjungan, setiap kalimat di atas dihubungkan dengan blog sumber atau blog lain yang juga menuliskan prihal sejenis.
    Tulisan seperti ini boleh dikatakan masih sepi dari ping back

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: